Konsep bangunan hijau menjadi isu yang sering dikampanyekan seiring meningkatnya kesadaran akan dampak lingkungan dan kebutuhan pembangunan berkelanjutan. Kesadaran akan isu lingkungan mulai mendapat perhatian yang lebih besar pada tahun 1970-an, tepat saat peristiwa Hari Bumi pertama di Amerika Serikat.

Pada tahun 1980-an, muncul beberapa inisiatif awal yang menyoroti pentingnya bangunan ramah lingkungan. Tindak lanjutnya adalah pendirian organisasi seperti Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) di Amerika Serikat, yang menjadi standar untuk bangunan hijau. Sementara di tahun 1990-an, kesadaran akan pentingnya pembangunan berkelanjutan makin meningkat di berbagai sektor, termasuk industri konstruksi.

Hingga saat ini, bangunan hijau terus menjadi tren di industri konstruksi. Makin banyak pemilik bangunan, pengembang, dan pemerintah yang sadar bahwa konsep bangunan hijau membawa banyak manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial. Di sisi lain, teknologi dan inovasi baru terus muncul untuk memperbaiki efisiensi dan kinerja bangunan hijau.

Pengertian bangunan hijau

Apa yang dimaksud dengan bangunan hijau?

Bangunan hijau adalah konsep struktur bangunan yang dirancang dan dibangun dengan mempertimbangkan dampak lingkungan yang minimal dan efisiensi sumber daya yang tinggi. Konsep ini memiliki konsekuensi pada penggunaan material yang ramah lingkungan, penghematan energi, pemanfaatan sumber daya alam secara efisien, pengelolaan limbah yang baik, serta menciptakan lingkungan interior yang sehat bagi penghuninya.

Lantas, apa saja yang menjadi indikator dalam penerapan konsep green building atau bangunan hijau?

Terdapat 6 (enam) aspek kriteria Greenship yang menjadi indikator dalam penilaian konsep bangunan hijau, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Tepat guna lahan (appropriate site development)

Dimulai dengan melihat karakteristik alami dan topografi lokasi, termasuk vegetasi, ruang terbuka hijau, hidrologi, keberadaan habitat alami, dan risiko bencana alam. Penilaian ini ditujukan untuk memahami bagaimana pembangunan dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya secara harmonis.

Di samping itu, perencanaan lokasi juga harus memperhitungkan aksesibilitas transportasi umum dan infrastruktur yang sudah ada. Pengembang atau pemilik bangunan perlu mempromosikan transportasi berkelanjutan, seperti sepeda, berjalan kaki, atau transportasi massal.

Konsep bangunan hijau

2. Efisiensi dan konservasi energi (energy efficiency and conservation)

Fokus pada penggunaan energi yang efisien di seluruh bangunan, termasuk sistem pemanas, pendingin udara, penerangan, dan teknologi lain yang mengurangi konsumsi energi. Penilaian ini juga dapat mencakup pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti panel surya atau sistem energi angin.

3. Konservasi air (water conservation)

Penilaian ini mengacu pada upaya untuk mengurangi penggunaan air. Misalnya melalui penggunaan teknologi hemat air, pengumpulan air hujan, sistem pengolahan air limbah, dan desain lansekap yang ramah air. Tujuan utamanya tentu saja untuk meminimalkan konsumsi air serta mempertahankan kualitas air yang baik.

4. Siklus dan sumber material (material resource and cycle)

Hal ini mengatur bagaimana pemilik/pengembang dalam menggunakan bahan bangunan yang ramah lingkungan. Penilaian juga mempertimbangkan siklus hidup material, termasuk sumber, produksi, penggunaan, daur ulang atau pembuangan.

5. Kesehatan dan kenyamanan dalam ruang (indoor health and comfort)

Meliputi upaya untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman bagi penghuni/pemilik bangunan. Umumnya, terdapat beberapa faktor-faktor yang dilihat, seperti ventilasi, kualitas udara dalam ruangan, pengendalian kelembaban, serta pemilihan material yang ramah lingkungan.

6. Manajemen lingkungan bangunan (building environment management)

Dengan melihat dan mengevaluasi praktik manajemen bangunan yang berkelanjutan, termasuk pengelolaan limbah operasi dan pemeliharaan bangunan.

Baca juga: Pentingnya pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung

Manfaat dari konsep bangunan hijau (green building)

Manfaat jangka panjang dari bangunan hijau meliputi berbagai aspek yang mencakup lingkungan, ekonomi, sosial, dan kesehatan, seperti:

  1. Pengurangan emisi karbon.
  2. Efisiensi energi dan penghematan biaya.
  3. Kualitas udara dalam ruangan yang lebih baik.
  4. Kesehatan dan kesejahteraan penghuni yang lebih terjamin.
  5. Penghematan air dan menjaga kualitas air.
  6. Konservasi sumber daya alam.
  7. Peningkatan nilai properti.
  8. Pemulihan lingkungan.
  9. Kepatuhan terhadap regulasi sehingga meningkatkan kepercayaan publik.
  10. Komitmen terhadap keberlanjutan.

Di Indonesia, terdapat berbagai proyek bangunan hijau, salah satunya adalah The Menara BCA, Jakarta. Peran mereka dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan kesadaran akan keberlanjutan sangat penting untuk masa depan yang lebih baik.

The Menara BCA merupakan salah satu bangunan perkantoran terbesar di Jakarta yang mendapatkan sertifikat GREENSHIP EB dari Green Building Council Indonesia dengan pencapaian platinum pada tahun 2017. Bangunan ini dilengkapi dengan berbagai fitur hijau, seperti sistem manajemen energi yang canggih, penggunaan material ramah lingkungan, dan desain yang memaksimalkan pencahayaan alami.

Lokasi: Grand Indonesia, Jl. M.H. Thamrin No.1, RT.1/RW.5, Menteng, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta

Sertifikat: klik di sini

Ada juga Gedung OJK, Jakarta. Gedung ini mendapatkan sertifikasi platinum dari GBCI ( Green Building Council Indonesia). Bangunan ini telah dirancang dengan memperhatikan aspek-aspek hijau, seperti penggunaan material ramah lingkungan, penggunaan energi yang efisien, dan pengelolaan air yang baik.

Biaya pembuatan bangunan hijau

Biaya konsep bangunan hijau sering kali lebih tinggi dibandingkan dengan bangunan konvensional karena beberapa alasan. Salah satunya adalah penggunaan teknologi hijau seperti panel surya, sistem pengelolaan air, dan material ramah lingkungan.

Meskipun biaya ini dapat diimbangi oleh penghematan energi dan operasional dalam jangka panjang, tetapi memerlukan investasi awal yang lebih besar. Di sisi lain, saat ini teknologi dan material hijau masih dip oduksi dalam skala yang lebih kecil dibandingkan dengan teknologi dan material konvensional. Hal inilah yang menjadi penyebab biaya produksi lebih tinggi karena kurangnya efisiensi dalam produksi massal.

Green building atau bangunan hijau sebagai konsep pembangunan masa depan

Konsep bangunan hijau menawarkan pandangan holistik terhadap pembangunan karena mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan manusia, dan efisiensi sumber daya. Dengan memprioritaskan penggunaan material ramah lingkungan, teknologi hemat energi, dan desain yang memaksimalkan pencahayaan alami, bangunan hijau dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Selain itu dapat mengurangi jejak karbon, bangunan hijau juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi, seperti meningkatkan kualitas udara dan air, menciptakan ruang publik yang nyaman, serta mengurangi biaya operasional jangka panjang.

Konsep ini memperkuat kesadaran akan pentingnya harmoni antara manusia dan alam, serta mendorong inovasi dalam teknologi dan praktik pembangunan. Bangunan hijau adalah simbol komitmen untuk menjaga keberlanjutan planet yang kita huni, yakni bumi.

Selamat Hari Bumi
22 April 2024

Post a comment

Your email address will not be published.

Artikel relevan